Pages

Minggu, 20 Maret 2011

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin

[Berhenti sejenak menatap sekitar. Itu selalu memberikan kita : INSPIRASI!]

Pernahkah merasa berjodoh dengan sebuah buku? Saat begitu ingin memilikinya dan ketika berada di toko buku menemukan buku itu tanpa keraguan sedikitpun langsung mengambil buku itu dan membawanya ke kasir. Setidaknya itulah yang sy rasakan pada buku ini, merasa sangat ingin memilikinya, padahal judul2 sebelumnya dengan penulis yang sama gagal merebut perhatian sy. Karena itulah ketika suatu siang menjelang sore sy menerima sebuah telepon dan suara di seberang mengatakan : “Ti, aku lagi ada di Gramed nih. Mau buku apa?” Seketika ada taman bunga yang bersemi di hati saya. siapa sih yang ga berbunga2 ditawarin buku? Hehe.. Maka buku pertama yang sy sebut adalah buku ini : “Daun yang jatuh tak pernah membenci angin” karya terbaru dari Tere Liye. Thanks ya ka buat 2 bukunya. Benar2 nyesal Cuma nyebutin 2 buku. Hihihi…

Membujuk hati berdamai dengan harapan..

Tak perlu waktu lama buat menyelesaikan buku ini. Sy hanyut dalam ceritanya. Atau bisa dibilang terjerumus. Cara Tere Liye mengupas sebuah cerita sungguh menarik. Sy bahkan sempat berpikir, kok bisa ya penulis cowok sebegitu mengerti tentang sebuah rasa yang sy rasa hanya bisa dirasakan oleh wanita yang memang lebih perasa ketimbang cowok. Yah, novel ini tokoh utamanya adalah seorang wanita bernama Tania.

Yakinlah, mengenang semua perasaan itu tidak sesulit yang dibayangkan


Seorang wanita yang bersama adik dan ibunya pernah menjalani masa-masa sulit sepeninggal ayah mereka. Masa-masa harus meninggalkan sekolah, tinggal di rumah kardus, mengamen dan makan tak teratur. Sampai ada satu malaikat yang muncul di tengah kehidupan mereka. Seorang malaikat yang Tania bersumpah akan menuruti semua kata-katanya, keinginannya dan sumpahnya pada ibunya, Tania hanya akan menangis karena seseorang itu.

Kebaikan itu memang tak selalu harus berbentuk sesuatu yang terlihat. Tak selalu dalam bentuk uang dan materi.


Karena itulah saat sang ibu tiada, Tania menahan jutaan sesak di dadanya dan menahan agar air matanya tak tumpah. Semakin keras Tania berusaha, semakin sy larut dalam haru dan terisak sendiri. Tuhan, semua takdirMu baik.. semua kehendakMu adalah yang terbaik..


Hari terus berlalu dan tumbuhlah Tania dengan kecemerlangannya. Menjadi gadis yang cerdas dan cantik. Tapi di hatinya telah tumbuh sebuah perasaan yang tak bisa dia kendalikan. Sebuah rasa untuk seseorang yang telah menjadi malaikat penolong keluarganya. Tapi, Tania tak pernah bisa mengungkapkannya dalam kata-kata tentang perasaannya. Walau dalam tingkahnya rasa itu sangat jelas tergambar.

Dalam urusan perasaan, di mana-mana orang jauh lebih pandai “menulis” dan “bercerita” dibandingkan saat praktik sendiri di lapangan.

Orang yang memendam perasaan sering kali terjebak oleh hatinya sendiri. Sibuk merangkai semua kejadian di sekitarnya untuk membenarkan hatinya berharap. Sibuk menghubungkan banyak hal agar hatinya senang menimbun mimpi. Sehingga suatu ketika dia tidak tahu lagi mana simpul yang nyata dan mana simpul yang dusta.


Dan seseorang itu selalu menghindar ketika Tania mencoba meraba perasaannya. Sy sampai menyimpulkan seperti ini : ketika seorang pria selalu menghindar untuk membicarakan perasaannya maka waspadalah.. dia tak punya perasaan apa2 terhadap kita. Benar begitukah? Entah.

Pria selalu punya ruang tersembunyi di hatinya. Tak ada yang tahu, bahkan percayakah kau, ruang sekecil itu jauh lebih absurd daripada seorang wanita terabsurd sekalipun.


Puncaknya adalah ketika pria itu memutuskan menikah dan Tania kembali terjatuh dalam masa-masa sulit kehidupannya yang kali ini bukan karena kehidupan ekonomi mereka tapi karena PERASAAN.


Otakku sedang benci, maka aku selalu berpikiran negatif sepanjang hari..

Kesibukan-kesibukan itu akan membuatku lelah berpikir. Dan jika aku sudah lelah berpikir, pelan-pelan semuanya akan berlalu. Kalau aku sedikit beruntung, mungkin bisa melupakannya.

Terakhir, benar kata Ibu lewat komen beliau di MP. Sy suka endingnya bu.. duuuh.. ibu sama anak kompakan terus. Hehe.. intinya.. Jangan pernah menyerah. Hidup akan terus berjalan. Dan tidak semua perasaan harus diperjuangkan. (kesimpulan sendiri)

Menikah tidak selalu harus dengan seseorang yang kita cintai. Menikah adalah pilihan rasional. Ketika sudah menjalaninya, masalah terbesarnya bukan cinta atau tidak cinta lagi. Masalahnya adalah KOMITMEN.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

LinkWithin

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Share It