Tampilkan postingan dengan label Tulisan di Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan di Buku. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 April 2020

Terima Kasih Allah untuk Fiksi Anak Terbaik Islamic Book Award 2020


Jum'at, 14 Februari 2020 saat kabar itu saya terima, Terima Kasih Allah yang menjadi Fiksi Anak Terbaik Islamic Book Award 2020. Saya sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja saat itu. Masih dalam suasana berduka yang teramat sangat karena meninggalnya nenek saya, plus ditambah kabar hasil MCU suami saya yang tidak baik-baik saja. Hasil MCU itu membuat saya teringat akan hasil dua tahun yang lalu yang membuat saya trauma parah. Saya down, tak menyangka juga ternyata saya serapuh itu 😅 Semangat hidup saya seolah menguap. Sedikit makan, sedikit tidur, banyak menangis.

Saat saya mencoba mengumpulkan keping-keping semangat. Bilang ke suami kalau kita harus mengatur pola makan. Saya pun beranjak ke supermarket, membeli beberapa makanan untuk menunjang perubahan pola makan itu. Mungkin karena sedikit makan, sedikit tidur dan banyak menangis itu berkeliling dua supermarket saya jadi lemes. Saya pun melipir sebentar ke sebuah kedai donat untuk membeli segelas kopi di sana.

Rabu, 22 November 2017

Qiya dan Risha, si Detektif Cilik. Buku Solo Pertama

Tadinya saya pikir, tak akan terlalu sulit untuk menulis novel anak. Novel dengan genre untuk anak-anak. Saya sudah pernah menulis beberapa cerpen (meski susah payah) dan sekian dari beberapa itu lolos seleksi redaksi sebuah majalah. Jadiiii.... dengan berbekal pengalaman itu, mungkin mudah saja bagi saya untuk menulis yang lebih panjang dari cerpen yaitu novel. 

Maka, ketika saya mengikuti kelas Permen (Kelas Program Menulis Novel Anak) bersama Uni Dian Onasis, saya pikir saya tak akan menemui banyak kendala. Novel akan saya selesaikan dengan baik, kirim ke penerbit, diterima dan diterbitkan. 

Kamis, 29 Desember 2016

Jejak Pena di 2016

            2016 menyisakan beberapa hari lagi. Seperti yang lazim dilakukan orang-orang untuk mengumpulkan jejak-jejak kejadian selama satu tahun di akhir tahun, saya pun tak ingin ketinggalan :p Mencoba mengumpulkan jejak-jejak pena di tahun ini. Sebagai evaluasi, juga motivasi untuk tahun yang akan datang.

            Layaknya dua tahun yang lalu, cerita anak dan resensi masih mendominasi dalam tulisan-tulisan saya yang diterbitkan media. Tahun sekarang pun begitu. Tercatat ada tujuh cerpen saya yang dimuat di Majalah Bobo.  Tadinya saya pikir jumlahnya hanya lima, begitu saya hitung lagi ternyata ada tujuh. Saya sendiri merasa kaget dengan jumlah tersebut karena merasa tahun ini mengalami paceklik karya di Bobo. Mungkin karena disebabkan karya saya yang terbit kebanyakan di awal tahun dan ada jeda yang lumayan panjang sampai karya penutup di tahun ini yaitu Wangidi Kamar Aggi.
Cerpen di Bobo di 2016

Rabu, 10 Februari 2016

Menulis Cerita Misteri


Beberapa waktu yang lalu ada pengumuman di grup BaW Community. Pengumuman tentang audisi naskah buat kumpulan cerpen anak (kumcernak). Membaca pengumuman tersebut, tentu saja saya bersemangat buat ikutan. Tapi begitu melihat temanya, oh tidaaaak...

Salah satu tema yang diusung dalam audisi itu adalah misteri. Menulis tentang misteri seperti jauuuh di luar kemampuan saya. Misteri di sini bukan misteri yang melibatkan hantu-hantuan. Tapi semacam pencarian informasi yang logis atas suatu kejadian yang misterius.

Saya bukan orang yang suka terhadap hal-hal berbau misteri itu. Cerpen-cerpen yang saya tulis pun nyaris semua hanya berkutat di kehidupan sehari-hari. Bukan misteri. Namun, saya sangat ingin ikut audisi tersebut.

Senin, 02 November 2015

Perjalanan Menuju RumahMu

Tulisan ini dimuat dalam buku Dreams2Reality yang diterbitkan oleh Leutika Prio. Kalau tidak salah ingat terbit tahun 2012

Perjalanan Menuju RumahMu
Oleh : Hairi Yanti

Apa kenangan terlama yang masih bisa kalian ingat? Kalau hal itu ditanyakan pada saya, saya masih ingat kejadian tahun 1989, saat belum genap berusia empat tahun, tepatnya saat kakek saya wafat. Masih teringat jelas kesedihan mama kemudian saya yang sebegitu senangnya bisa ketemu sepupu-sepupu dan tak peduli di tengah suasana duka saya malah asyik bermain. Oleh karena itulah, saya masih mengingat apa yang saya alami pada tanggal 29 Juni 1992, pada waktu ulang tahun saya yang ke tujuh.
           
Pada saat itulah saya bertanya pada tetangga yang masih ada hubungan keluarga, saya memanggil beliau acil (Tante dalam bahasa Banjar).  “Cil, bila ulun menabung seribu sehari, berapa tahun lagi ulun bisa naik haji?”
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...