Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label catatan perjalanan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 17 Februari 2021

Transit

 

            

Garuda Indonesia

  Penerbangan transit tak pernah masuk dalam kamus saya ketika memilih penerbangan dari Banjarmasin ke Balikpapan atau sebaliknya. Yah, namanya juga masih satu pulau di pulau Kalimantan. Kalau bisa langsung kenapa harus transit? Tapi, ternyata saya merasakan juga pengalaman tersebut. Terbang dari Banjarmasin menuju Balikpapan tapi mampir di Jakarta dulu. Buat yang tujuannya ke Pontianak, pengalaman ini mungkin biasa. Tapi, buat saya ini sesuatu yang baru.

              Beberapa waktu yang lalu, saya memang mudik ke kampung halaman saya Barabai. Pasca banjir besar yang melanda Barabai tanggal 14 Januari 2021, rasanya ada yang mengganjal kalau saya belum pulang menjenguk kedua orangtua saya. Setelah dua pekan di Kalimantan Selatan, saya pun memutuskan untuk kembali ke Balikpapan.

Kamis, 07 Januari 2021

Menikmati Nasi Arab di Math’am Aba Nawas Amuntai

 

Nasi arab di Amuntai
Nasi Arab di Math'am Aba Nawas Amuntai

Amuntai, ibukota kabupaten Hulu Sungai Utara, sebenarnya kota tetangga dengan kampung halaman saya Barabai. Tapi dibandingkan Kandangan, yang juga bertetangga dengan Barabai, saya sangat jarang menjejak kota Amuntai. Mungkin karena Amuntai tidak dilewati kalau mau ke Banjarmasin, mungkin juga kalau di sana tidak ada keluarga dekat saya. Sedangkan di Kandangan, ada paman dan sepupu saya yang tinggal di sana.

Kamis, 05 Maret 2020

Perjalanan ke Jakarta ketika Banjir


            Jakarta Banjir.

            Kabar itu saya dapatkan di pagi hari Selasa, 25 Februari 2020. Kabar itu terasa berasa lebih buat saya karena di hari itu saya sudah menjadwalkan terbang ke Jakarta bersama suami. Tiket sudah dibeli untuk Pukul 09.55 dan hotel pun sudah dipesan untuk dua hari. Suami pun sudah mengajukan cuti untuk tiga hari.

           Ditunda? Tentu saja rasanya tidak mungkin karena saya pergi ke Jakarta untuk menghadiri undangan di Islamic Book Fair keesokan harinya.

Senin, 24 Februari 2020

Keliling Balikpapan dengan Bus City Tour


"Apa yang kita inginkan bisa saja terwujud lebih lambat dari yang kita duga, atau seperti yang kita duga, atau juga bisa saja lebih cepat dari dugaan kita."
Bus City Tour Balikpapan di Gedung Parkir Klandasan
Sumber foto : teman-teman blogerbalikpapan.id

Beberapa kali saya melihat informasi di sosial media tentang Balikpapan yang punya Bus City Tour. Sebuah bus berwarna biru dan sangat menarik yang digadang-gadang bisa membawa warga kota atau pun wisatawan berjalan-jalan keliling Balikpapan. Bus ini merupakan CSR dari Bank KALTIMTARA yang diserahkan saat Balikpapan berulang tahun ke-123 pada tanggal 10 Februari 2020. Saya pun langsung berucap dalam hati, suatu hari nanti jika sudah benar-benar beroperasi, saya mau merasakan naik bus keliling kota Balikpapan.

Minggu, 22 Desember 2019

Wajah Baru Bandara Syamsudin Noor


         

       Bandara Syamsudin Noor punya wajah baru. Terminal keberangkatan dan kedatangannya yang baru. Letaknya sih tidak jauh dari terminal lama, tapi jalan masuk dan keluarnya berbeda dengan yang lama. Pada tanggal 10 Desember 2019, terminal baru itu resmi beroperasi. Seluruh penerbangan pun akhirnya dipindahkan ke sana seluruhnya.
              
        Pada tahun 2014, saat bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan diresmikan dan sebagai rute yang paling sering saya lalui, saya emang merasa jomplang sih antara kemegahan Bandara Balikpapan dengan kebersahajaan Bandara Banjarmasin. Tapi, buat saya tidak terlalu masalah karena berapa lama sih kita di bandara, paling juga sebentar. 

Senin, 02 September 2019

Napak Tilas Perjalanan Singkat di Surabaya dan Bangkalan


              
Surabaya merupakan kota di Pulau Jawa yang paling sering dikunjungi oleh keluarga saya. Mungkin karena letaknya yang lebih dekat dibanding kota besar lain di Pulau Jawa. Atau mungkin juga karena ada dua saudara mama saya yang menetap di sana, satu di Surabaya, sedangkan satu lagi di Bangkalan, Madura. Pengalaman pertama saya naik pesawat dan ke luar pulau Kalimantan pun tujuannya ke kota Surabaya.

              Beberapa waktu yang lalu, saya dan keluarga juga bepergian ke Surabaya. Ada saudara sepupu saya yang menikah di sana. Tiga hari dua malam adalah waktu yang kami rencanakan berada di Surabaya. Rencananya kami pergi menggunakan pesawat paling pagi di hari jum’at dan pulang menggunakan pesawat paling malam di hari minggu. Acara resepsi pernikahan sepupu saya berlangsung di hari minggu, jadilah kami punya waktu jalan-jalan mengitari Surabaya dan sekitarnya dua hari, jum’at dan sabtu.

Jumat, 12 Juli 2019

Naik Kereta : Impian, Rencana dan Kenangan



Naik kereta api tut… tut… tut…
Siapa hendak turut….

Sebuah lagu anak-anak yang me-Nusantara sekali. Di mana-mana lagu itu sering dinyanyikan walaupun pada kenyataannya banyak anak-anak yang tak pernah merasakan naik kereta. Seperti saya, dulu, saat masih kecil. Kereta merupakan sesuatu hal yang istimewa karena tidak ada di Kalimantan, pulau tempat saya lahir dan tinggal.

Kesempatan itu datang saat saya sudah menginjak bangku SMP. Beberapa anggota keluarga besar berencana ke Pulau Jawa. Tujuan utama adalah Jakarta tapi lewat Surabaya. Ada dua orang sepupu mama saya yang akan menikah dalam waktu berdekatan di Jakarta. Selisihnya hanya beberapa hari. Jadi seperti sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui, sekali ke Jakarta, ada dua undangan yang dihadiri plus liburan dan jalan-jalan.

Rabu, 18 Juli 2018

Nonton Blibli Indonesia Open di Istora


Sebenarnya memutuskan untuk #NgeIstora tidak sesederhana tulisan tentang Istora, Aku Datang yang saya tulis sebelumnya. Keputusan NgeIstora itu penuh dengan kegalauan. Awalnya saya rasanya tak ingin berangkat, bahkan tak mau ke Jakarta. Saya penginnya ngasuh ponakan saya aja di rumah kakek neneknya alias di rumah abah mama saya sendiri. Banyak hal yang saya pikirkan terkait #NgeIstora itu sendiri. 
Ngeistora

Pertama, saya tidak punya teman. Suami tentunya harus bekerja di hari kerja. Kecuali pada weekend dia bisa menemani saya menonton. 

Kedua, saya tak suka keramaian. Saya ini anak rumahan sekali yang sukanya selimutan di rumah (Hobi : Tidur). Jadi, mungkin yang cocok buat saya adalah nonton di rumah saja lewat layar ponsel. Apalagi saat melihat foto-foto keriuhan Istora, bukan ingin berangkat, malah pengin ngumpet. 

Selasa, 10 Juli 2018

Istora, Aku Datang


Saya bukan atlet, tapi saya mendamba untuk hadir di Istora. Sebagai penonton, sebagai pendukung, sebagai penikmat cabang olahraga yang begitu dicintai di negeri ini : bulutangkis. 

Semenjak menasbihkan diri sebagai Badminton Lover, keinginan untuk nge-Istora memang telah lama ada. Nge-Istora adalah sebutan untuk para pecinta Badminton saat menonton langsung bulutangkis di Istora Senayan walaupun sekarang Namanya berubah menjadi Blibli Arena tapi rasanya lebih menyenangkan menyebutnya Istora atau Istana Olahraga.
Istora Senayan

"Kalau enggak Ramadhan, kita nonton di Istora," kata suami saya setahun kemarin. "Tahun depan saja ya," lanjutnya lagi. 

Saya tidak mengiyakan tapi juga tidak menggelengkan kepala. Di kepala saya justru bermain pikiran berapa budget yang kudu disiapkan jika ke Jakarta hanya untuk menonton bulutangkis. Tiket masuknya aja sudah mahal, belum lagi tiket pesawat, penginapan, dan lain-lain. 

Senin, 18 Juni 2018

Menikmati Makanan ala Korea di Mujigae


Sebagai seseorang yang lumayan suka nonton drama Korea dan suka makan juga, tentulah ada keinginan buat makan aneka makanan Korea yang saya saksikan di drakor itu. Tapi, saya bukan tipe orang yang ngejar banget kudu makan karena menyadari kalau lidah saya ini Banjar sekali. Jadi, belum tentu juga makanan Korea itu cocok sama lidah saya. 

Ketika menonton drakor, paling saya sama-samakan aja. Misal saat mereka menyantap mie hitam yang nampak lezat, pikir saya "Ah, paling sama aja dengan indomie dikecapin." Saat Kim Bok Joo menyantap sate apa gitu di tepi jalan, saya mikir "Paling juga kayak kita makan sosis goreng atau pentol goreng yang ditusuk-tusuk." Tapi ada satu makanan yang pengiiiin banget saya coba, yaitu daging panggang. Aneka daging yang dimasak di atas kompor dan panggangan itu. Kok sepertinya seru ya? Sempat terpikir juga beli kompor dan panggangannya itu biar bisa bakar-bakar ala drakor. Tapi enggak jadi juga sih belinya.. Hahaha... 

Kamis, 07 Juni 2018

Berburu Takjil di Pasar Bendungan Hillir / Benhil


Lain padang lain belalang
Lain lubuk lain ikannya

Tulisan kali ini dimulai dengan peribahasa yang mana artinya dah pada hafal dong ya. Ini masuk peribahasa awam yang udah kita dengar sering sekali semenjak di bangku sekolah dasar yang sederhananya artinya itu kalau setiap daerah itu punya ciri khas, kebiasaan, atau budaya masing-masing. Beda satu daerah dengan daerah yang lain tentunya bisa banget. Termasuk saat Ramadhan dan urusan kulinernya. 

Tidak perlu jauh-jauh ngebandingin kita Indonesia dengan Timur Tengah, provinsi tetangga aja bisa beda. Waktu pindah ke Kalimantan Timur, saya aja ngerasain banget perbedaannya. Kalau di Barabai, kota kelahiran saya itu dominan dijual wadai-wadai atau kue-kue khas Banjar, maka saat di Kaltim, kue khas Bugis juga termasuk kuliner yang banyak dijual saat Ramadhan. 
Kue Lam Basah khas Barabai

Sabtu, 19 Mei 2018

Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih


              Pada masa saya kecil, Yogyakarta adalah kota yang lumayan sering saya dengar. Semua karena ada beberapa kakak sepupu saya yang kuliah di sana. Salah satunya yang saya panggil Abang. Setelah Abang lulus, abang kerap bercerita tentang Yogyakarta diantaranya tentang nasi goreng kambing di Yogyakarta. Abang bercerita sambal nelan-nelan ludah gitu, mendeskripsikan betapa lezatnya sepiring nasi goreng kambing.

              Mungkin karena saya emang doyan makan dan suka penasaran dengan dengan makanan yang diceritakan, jadilah saya berpenasaran ria dengan yang namanya nasi goreng kambing. Jadilah setiap ada menu nasi goreng kambing jika sedang berwisata kuliner, saya kerap memesannya. Begitupun saat santer terdengar tentang nasi goreng kambing kebon sirih di Jakarta, saya langsung aja penasaran dong. Apalagi ketika melihat video atau foto tentang nasi goreng kambing kebon sirih itu, di mana ada gunungan nasi goreng dalam sebuah wajan gede.

Jumat, 18 Mei 2018

Naik Angkutan Umum di Jakarta

TransJakarta


              Sebelumnya tak pernah terpikirkan oleh saya untuk naik angkutan umum di Jakarta. Jika mau bepergian, taksi aplikasi atau taksi argo yang menjadi pilihan utama. Bukannya sok kaya alias kebanyakan duit sih, tapi malas ribet dan berpikir kalau Jakarta kota yang asing buat saya. Jadi pengin simpel, abis masuk mobil langsung sampai tujuan dan tak perlu susah-susah buat mantau rute-rute angkutan umum. Begitu…. Tapi itu dulu…

              Menjelang ke Jakarta beberapa bulan yang lalu dan diantar adik ipar ke bandara, saya tanya ke adik ipar bagaimana caranya naik busway atau transJakarta? Karena sebelumnya adik ipar saya emang kerja di Jakarta. Jadi, dia macam gantian aja sama kakaknya (Suami saya) kerja di Jakarta. Sama adik, akhirnya dikasih kartu buat naik TransJakarta. Ya udah deh kartunya saya kantongin dompetin.

Selasa, 08 Mei 2018

Pengalaman Indekos di Jakarta


Seperti yang saya ceritakan di sini, tiap kali ngintilin menyertai suami kerja di Jakarta selalu memberikan pengalaman yang berbeda. Kali ini pengalaman yang saya dapatkan adalah indekos di ibukota.

Begitu mengetahui kalau suami di-kos-kan oleh kantor, keinginan ngikutin suami yang awalnya 50% jadi menanjak menjadi 90%. Selain menambah pengalaman, saya pun semacam kudu ikut mendampingi. Jadi, niatan awal mau mudik selama suami kerja di Jakarta saya urungkan. Saya telpon mama dan bla bla bla ngasih penjelasan kalau mudik saya bakal tertunda.

"Kalau enggak betah atau suasananya tidak kondusif buat ditinggalin, tinggal pesan tiket, ke bandara, terbang dan minta jemput kakak di bandara," ujar saya pada Mama. Mama pun mendukung penuh rencana saya.

Maka... mulailah saya jadi anak kos di Jakarta. Jeng... jeng.. jeng...

Senin, 06 November 2017

Bedah Buku Tentang Kamu Bersama Tere Liye di Balikpapan

Tere Liye akan datang ke Balikpapan. Mengisi acara bedah buku untuk bukunya sendiri yang berjudul Tentang Kamu. Informasi itu saya terima beberapa bulan yang lalu. Setelah mencek jadwal, jadwalnya pas dengan jadwal mudik yang sudah selesai, juga jadwal turnamen bulutangkis yang akan disiarkan pada malam hari. 

Tapiii, pas jadwalnya itu tidak serta merta membuat saya mendaftar dan menyatakan ikut acara tersebut. Acaranya berbayar, dengan jumlah pembayaran yang menurut saya lumayan besar. 150 ribu untuk silver, 175 ribu untuk gold. Lumayan banget kan uang segitu buat beli daging seperempat kg, mangga 2 kg, ayam satu ekor, dan aneka sayur mayur juga bumbu dapur.

Rabu, 12 Oktober 2016

Mengunjungi Rumah Beruang Madu

Lama juga tidak posting tulisan yang dimuat di media karena memang lama tulisan saya belum dimuat di media lagi #ngikik. Tapi, jadi ingat sama tulisan yang belum dimasukkan ke blog ini, salah satunya tulisan ini. Ini salah satu tulisan yang special buat saya sebab sampai sekarang baru tulisan ini satu-satunya artikel perjalanan yang berhasil tembus media. Kirimnya juga jarang sih karena saya juga jarang jalan-jalan.

Tulisan ini menjadi special juga karena ini termasuk salah satu tulisan yang awal-awal dimuat. Sekitar awal tahun 2014. Waktu menerima kabar kalau tulisan ini dimuat rasanya senaaaang sekali bisa dimuat di rubrik Pariwisata harian Pikiran Rakyat bulan Maret 2014.  Berikut artikel saya tersebut, artikel asli yang saya kirim ke Pikiran Rakyat sebelum diedit pihak redaksi. Judul termasuk yang diedit. Hehehe…
Rubrik Pariwisata di Pikiran Rakyat

Happy Reading ^_^

Kamis, 05 Mei 2016

[Wiskul Banjarbaru] Sruput on de Road

            Sewaktu Cinta dan Rangga melanjutkan ‘petualangan bersama mantan’ di satu tempat bernama Klinik Kopi, saya langsung ingat dengan Sruput on de Road, tempat nongkrong kekinian yang pernah saya dan suami datangi di Banjarbaru. Mungkin deretan toples kopi dan penjelasan owner-nya tentang kopi yang membuat saya langsung teringat pada Sruput on de Road.

            Sruput on de Road terletak di Banjarbaru, di jalanan depan kampus UNLAM, eh, sekarang namanya ULM ya? Universitas Lambung Mangkurat buat yang belum tahu apa itu UNLAM atau ULM. Jadi, dekat pintu gerbang pertama atau pintu gerbang ke Fakultas Pertanian gitu, ada deretan penjual makanan, salah satunya Sruput on de Road ini.

            Rombong tempat deretan toples kopi dipajang ada di depannya. Buat menikmati makanan kita bisa memilih duduk di lesehan atau duduk di rombong itu. Saya memilih duduk di depan rombong jadi bisa melihat aktifitas penyajian kopi.

Rabu, 04 Mei 2016

Perjalanan 326 kilometer Menuju Balikpapan


Sebenarnya kalau diminta memilih antara perjalanan darat atau udara, saya jelas lebih memilih perjalanan udara karena lebih tidak memakan waktu, juga tenaga. Namun, ada kalanya perjalanan darat tidak bisa dihindari. Seperti perjalanan dari Barabai menuju Balikpapan yang saya jalani minggu kemarin.

            Perjalanan itu pun menimbulkan beberapa kekhawatiran dari berbagai pihak. Di antara kekhawatiran itu adalah :

            Pertama, jalan lintas provinsi Kalsel-Kaltim itu rusak. Walau tidak sepanjang perjalanan ditemani jalanan yang rusak, namun ada beberapa titik yang mengalami kerusakan parah.

Setahun kemarin saya dan kakak sudah pernah melewati jalanan tersebut. Jadi, sedikit banyak saya sudah tahu medannya. Yang tambah mengkhawatirkan adalah ada kabar kalau kerusakannya semakin parah. Walau ada juga kabar yang menyampaikan kalau sudah ada perbaikan di beberapa titik. Kabar yang saya terima masih simpang siur.

Kamis, 17 Maret 2016

Menikmati Pagi di Pasar Terapung Lok Baintan

Pasar Terapung
Pasar terapung merupakan objek wisata yang terkenal dari Kalimantan Selatan. Banyaknya sungai yang mengalir di wilayah itu menjadikan sungai merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakatnya. Karena itulah aktivitas jual beli pun dilakukan dari atas sungai, dengan mendayung jukung (sampan kecil) mereka menjajakan dagangannya. Keunikan pasar terapung ini pun kemudian menarik banyak minat para wisatawan untuk melihat secara langsung pasar yang berada di atas air alias terapung.

            Perjalanan ke pasar terapung di mulai ketika adzan subuh belum berkumandang. Mobil yang saya tumpangi sudah melaju membelah jalanan Banjarbaru menuju Banjarmasin. Ketika adzan menggema, saya dan rombongan pun mampir ke mesjid terdekat untuk shalat subuh. Setelah menunaikan kewajiban, perjalanan kembali dilanjutkan.

Jumat, 11 Maret 2016

Gerhana Matahari Total di Balikpapan

Sekitar setahun yang lalu, saya mendapat berita itu. Gerhana Matahari Total (GMT) yang akan melewati Indonesia. Ada 11 kota yang akan mendapatkan GMT 100%, salah satunya Balikpapan. Mendapati kabar tersebut tentu saya senang sekali. Balikpapan adalah kota yang dekat dengan saya. Dekat dalam artian sebenarnya secara geografis, tapi juga dekat di hati karena suami berasal dari sana dan mertua saya juga tinggal di sana. 

"Kita ke Balikpapan nanti tanggal 9 Maret 2016, ya," ujar saya kepada suami. Namun, ia tak mengiyakan, juga tidak mengatakan tidak. Ketidakpastian, itulah tepatnya. Dengan pekerjaannya yang bisa ada di daratan dan lautan membuat suami tak bisa menjanjikan apa-apa. 
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...